Selasa, 12 Februari 2013

Catatan pertama kuliah filsafat Pemberontakan F. Nietzsche


“Membuat orang gelisah, adalah tugas saya”. (F. Nietzsche)

Jam 7 malam selasa, saya bersama rekan-rekan yang lain mendengarkan paparan kang Rosihan Fahmi tentang Filsafat Pemberontakan F. Nietzsche. Selesai adzan isya berkumandang kanga mi memulai ceritanya. Rekan-rekan secara seksama mendengarkan, tak banyak yang menulis, entah karena malas menulis, tak niat menulis atau memang tidak mempersiapkan untuk menulis. Saya sendiri tak menulis karena tak menyiapkan untuk menulis,sesal. Padahal pelupa (akhirnya catatan ini dibuat sambil mengingat-ingat semalam itu).
Dengan ditemani rokok djisamsunya serta kopi luwaknya yang seribuan dapat diwarung, kang ami semangat sekali memaparkan apa itu pemberontakan?, lalu siapa Nietzsche itu? Kuliah yang akan berlangsung selama 2 bulan dengan 8 kali pertemuan dan setiap senin bada isya memang masih menyisakan tanda tanya. Nietzsche itu asing (karena jarang membaca secara intens tentang dirinya), walaupun kata pemberontakan sering didengar, namun menjadi asing ketika bersinggungan dengan Nietzsche.

Apa itu Pemberontakan?
Beberapa contoh disebutkan kang ami, seperti berontak dari kemalasan, berontak dari tidak pernah baca buku, berontak dari yang lainnya, yang tentu saja harus dimengerti dulu apa maksud dari kata berontak?, lalu baru bisa berlanjut dengan apa yang mau diberontak?.

Kata berontak (pemberontakan), saya memahaminya sebagai ungkapan atau tindakan yang ingin lari dari suatu hal yang ingin diberontaknya. Contoh seperti yang kang ami bilang, berontak dari rasa malas, artinya ingin lari atau menjauh dari rasa malas, karena malas itu? (sejuta alasan, bahkan bisa satu alasan sekalipun). Kata berontak biasanya selalu disertai dengan tindakan juga, seperti saya waktu kecil ‘berontak’ terhadap orang tua karena tak diberi lebih uang jajan, spontan sikap saya terhadap orang tua jadi berubah, tak mau disuruh lah, bibir manyun lah pas ditolak proposal pengajuan pertambahan uang jajan, dan sikap lainnya yang menunjukan kalau saya sedang memberontak. Berontak bisa juga diartikan rasa tidak setuju melalui medium bahasa dan tindakan.

Pemberontakan ala Nietzsche
Apa yang Nietzsche berontak? Bagaimana cara memberontak ala Nietzsche? Pertanyaan awal menjelaskan apa, pertanyaan kedua menjelaskan bagaimana. 

Setiap zaman mempunyai otoritas kebenarannya masing-masing, seperti yang kang ami bilang, setidaknya ada 4 otoritas kebenaran. Dan ke-4 ini pernah berkuasa pada zamannya. 4 otoritas itu adalah mitos, agama, sains dan filsafat. Dulu pada zaman Yunani kuno otoritas kebenaran dipegang oleh mitos, setiap aspek dalam kehidupan masyarakat ketika itu di atur dan dijawab oleh mitos. Sampai pada akhirnya muncul oaring-orang yang kritis, yang kali ini disebut para pemberontak (filusuf-filusuf). Mereka mempertanyakan ulang tentang kebenaran mitos tersebut dengan caranya masing-masing.

Tapi ada yang perlu dicatat ulang yaitu, diantara yang 4 itu ada titik persamaannya ungkap kang ami. Yaitu doktrinasi (teks). Dengan artian bahwa kebenaran telah final. Tak bisa diganggu gugat. Tak boleh ditanyakan. Tak boleh dipikirkan atau bahkan tak boleh dibicarakan (pamali).

Namun, dalam pandangan Nietzsche, filsafat masih punya daya kritisnya yang bisa dipakai untuk melihat semuanya (mitos, agama, sains bahkan filsafat itu sendiri). Kebenaran menjadi terombang-ambing. Kebenaran menjadi suatu hal yang penting untuk dibicarakan setiap hari, baik itu lewat dialog (diskusi) ataupun monolog (merenung, bertapa dan sejumlah cara lainnya). Atau jangan-jangan kebenaran itu sendiri apa? Apa yang menjadi sandaran kebenaranmu? Sampai membuat kamu merasa yakin dengan apa yang kamu jalani saat ini. Apa kamu yakin “kebenarannya” dengan jalan hidup yang kamu gunakan saat ini? (tugas pertemuan pertama).

“Jika engkau haus akan kedamaian jiwa dan kebahagiaan, percayalah.
Jika engkau ingin murid kebenaran, Carilah!.” (Nietzsche)

Filsafat dalam anggapan Nietzsche seperti badai yang menghantam karang-karang keras. Badai ini masih dianggap mempunyai daya dobrak yang luar biasa. Membuat celah-celah, menerawang hal yang dianggap berisi padahal kosong,menggucang hati yang risau, menelanjangi setiap bentuk kepalsuan dari yang disebut dengan kebenaran. Yang terselubung itu bisa berkedok apapun hasrat manusia (manusia binatang). Karena itu Nietzsche menawakan suatu cara untuk membebaskan manusia dari ketidakmengertiannya tentang yang berada di sekelilingnya. Dalam sepanjang hidupnya, Nietzsche membaktikan hidupnya untuk filsafat dan ilmu.
Filsafat Pemberontakan ala Nietzsche ini dicoba ditarik dalam kehidupan sehari-hari. Seperti yang kang ami maksud adalah filsafat keseharian. Jadi teringat ungkapan Socrates “hidup yang tak pernah dipikirkan, tak layak untuk dijalani”.   

Filsafat bagi kang ami adalah modal beliau dalam menjalani kehidupannya, terlebih filsafat Nietzsche. Kang ami merasa bangga pernah mengenyam kuliah di IAIN jurusan Aqidah Filsafat. Ketemu dengan maha-maha-maha guru baba Ycon yang kebetulan menyempatkan hadir dalam pertemuan pertama kelas filsafat ini. Banyak pengalaman dengan beliau ungkap kang ami (sampai pernah proposal kanga mi dibakar dan dibuang ke tempat sampah olehnya). Saya baru tahu kalau baba, segitunya. Sekarang kalau baba masih kayak gitu, wah gtw juga deh…(layak untuk dipertimbangkan hahaha)

Kalaupun masih sedikit shock dengan pertemuan pertama kemarin, dan memang suasana kelas belum begitu ramai. Saya dan rekan-rekan lain-lainnya mungkin mengalami hal yang sama (gelisah sambil berusaha mencoba memahami). Pemberontakan ala Nietzsche masih menyisakan banyak pertanyaan, belum banyak yang diketahui. Karena itu, kang ami menyarankan dalam seminggu ini (sampai ketemu senin depan), rekan-rekan disarankan untuk banyak-banyak membaca karya Nietzsche, baik itu yang berhubungan dengan biografinya dan suasana sekeliling Nietzsche ketika membuat aforis-aforismenya, supaya paham betul kenapa ayat-ayat pemberontakan itu dikumandangkan.

Sudah mulai lupa dan tak sabar untuk berbagi dengan rekan-rekan di kelas filsafat Shopia. Sekian dulu catatan ini dibuat. Pertemuan kedua sedang dinantikan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar